“Marhaban Ya Ramadhan”
Saya, Abans selaku Penulis web ini mengucapkan
"Selamat menunaikan ibadah puasa,
semoga kita selalu diberkahi di bulan yang penuh mahrifah ini...amin."

Continue Reading →
Mohon nasehatnya tentang bagaimana sebuah keluarga merayakan hari rayanya (dengan penghormatan yang tulus, saya mohon tidak memperingatkan 'Jangan pergi ke tempat-tempat yang diharamkan seperti pergi ke tempat yang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, atau ke bioskop, dan lain-lain. Hal-hal seperti itu tidak akan dilakukan). Mungkinkan anda memberikan contoh bagaimana seharusnya orang beriman merayakan hari rayanya? Apa saja kegiatan yang dia harus berpartisipasi di dalamnya? Apakah boleh bagi sepasang suami isteri bersama-sama keluarga menyantap makanan yang lezat di sebuah tempat? Bagaimana para ulama’ merayakan hari raya?
Alhamdulillah
Dua Hari Raya, merupakan hari kegembiraan dan suka cita. Pada hari-hari ini terdapat ibadah, etika dan adat yang  khusus. Di antaranya;
1- Mandi.
Terdapat riwayat shahih dari shahabat tentang perkara ini.
Seseorang bertanya kepada Ali radhiallahu anhu tentang mandi, maka beliau berkata, 'Mandilah setiap hari jika anda suka.' Orang itu berkata, 'Tidak, yang ku maksud adalah mandi yang khusus,' Maka dia berkata, 'Mandi pada hari Jum'at, hari Arafah, hari Nahr (Idul Adha) dan Hari Fitr (Idul Fitri)." (HR. Syafi'i dalam musnadnya hal. 385, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Irwa'ul Ghalil, 1/176)
2. Memakai pakaian baru
Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata, 'Umar radhiallahu anhu mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar, lalu dia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian berkata, 'Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengannya untuk Hari Raya dan menyambut tamu.' Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapatkan bagian (di hari kiamat)"
Al-Bukhari meletakkan hadits ini dengan judul 'Bab Tentang Dua Hari Raya dan Berhias Di Dalamnya'
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, 'Hal ini menunjukkan bahwa berhias pada moment-moment seperti itu sudah sangat dikenal.' (Al-Mughni, 2/370)
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata, 'Hadits ini menunjukkan diperintahkannya berhias pada Hari Raya dan itu merupakan perkara biasa pada mereka (masa Nabi dan Shahabat).' (Fathul Bari, karangan Ibnu Rajab, 6/67)
Asy-Syaukani rahimahullah berkata, 'Kesimpulan, disyariatkannya berhias pada Hari Raya dari hadits ini didasari oleh persetujuan Nabi tentang berhias di Hari Hari, karena dia terbuat dari sutera."  (Nailul Authar, 3/284)
Demikianlah,  hal tersebut terus berlangsung sejak masa shahabat hingga kita sekarang ini.
Ibnu Rajab Al-Hambali Raya, adapan pengingkarannya hanya terbatas pada macam pakaiannya rahimahullah berkata; 'Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Nafi bahwa Ibnu Umar pada dua Hari Raya mengenakan bajunya yang paling bagus.
Dia juga berkata, "Berhias pada hari Id berlaku sama bagi orang yang berangkat untuk shalat maupun yang duduk di dalam rumahnya, bahkan termasuk berlaku untuk wanita dan anak-anak." (Fathul Bari, Ibnu Rajab, 6/68, 72)
Sebagian ulama berkata, 'Pendapat yang mengatakan bahwa orang yang i'tikaf hendaknya memakai pakaiannya saat i'tikaf ketika berangkat untuk shalat Id adalah pendapat yang dilemahkan."
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, 'Sunnah pada hari Id adalah berhias, baik bagi orang yang i'tikat maupun yang tidak." (Tanya jawab dalam shalat dua Id, hal. 10)
3. Mengenakan Wewangian Yang Paling Baik.
Terdapat riwayat shahih dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwa beliau mengenakan wewangian pada hari Idul Fitri, sebagaimana terdapat dalam kitab Ahkamul Idain, hal. 83. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, Malik berkata, 'Aku mendengar para ulama menyatakan disunnahkan berhias dan mengenakan wewangian pada setiap Id, dan Imam Syafi'i menyatakannya sunnah.' (Fathul Bari, Ibnu Rajab, 6/78)
Berhias dan mengenakan bagi wanita berlaku bagi mereka yang berdia di rumahnya di depan suami mereka, atau para wanita atau para mahramnya.
Disebutkan dalam Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah, 31/116, 'Ketetapan sunnah memakai pakaian bagus, membersihkan diri,  mengenakan wewangian, memotong rambut dan menghilangkan bau badan berlaku sama bagi orang yang berangkat shalat Id atau yang duduk di rumahnya, karena hari itu adalah hari berhias,  maka kedudukannya sama. Ini berlaku bagi selain wanita. Adapun bagi wanita jika mereka keluar, maka mereka tidak boleh berhias, bahkan hendaknya dia keluar dengan pakaian sederhana, jangan memakai pakaian yang paling bagus, tidak juga dibolehkan memakai wewangian, khawatir ada yang terkena fitnah karenanya. Demikian juga halnya bagi wanita yang telah tua, atau wanita yang tidak berparas cantik, berlaku pula hukum seperti itu. Hendaknya mereka juga tidak bercampur baur dengan laki-laki, tapi menghindar dari mereka."
4. Takbir
Disunnahkan bertakbir pada hari Idul Fitri sejak hilal terlihat, berdasarkan firman Allah Ta'ala,
وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبّرُواْ اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ (سورة البقرة: 185)
"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185)
Mencukupkan bilangan terwujud dengan sempurna dan berakhirnya puasa, yaitu ketika imam keluar untuk khutbah.
Sedangkan dalam Idul Adha, takbir dimulai sejak pagi hari Arafah hinggga akhir hari Tasyriq, yaitu tanggal tiga belas Dzulhijjah.

5- Berkunjung
Tidak mengapa pada hari Id berkunjung kepada kaum kerabat, tetangga dan teman-teman. Hal tersebut telah menjadi kebiasaan masyarakat pada Hari Raya. Ada pula yang mengatakan bahwa hal itu termasuk dalam hukum disunnahkannya merubah arah jalan (saat berangkat dan pulang) dari tempat pelaksanaan shalat Id.
Mayoritas ulama berpendapat disunnahkannya pergi ke tempat shalat Id menempuh satu jalan dan pulang melewati jalan yang lain. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, dia berkata, "Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, pada hari Id menempuh jalan yang berbeda (antara pergi dan pulang." (HR. Bukhari, no. 943)
Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata tentang hukum tersebut, 'Ada yang mengatakan, hendaknya dia mengunjungi kerabatnya, baik yang hidup maupun yang telah mati.' Ada pula yang mengatakan, 'Hedaknya bersilaturrahim.' (Fathul Bari, 2/473)
6- Ucapan Selamat
Boleh diucapkan dengan berbagai ungkapan yang dibolehkan. Yang paling utama adalah dengan mengucapkan,
تقبل الله منا ومنكم
"Semoga Allah menerima (amal ibadah) kita semua."
Karena redaksi ini bersumber dari para shahabat radhiallahu anhum.
Dari Jabir bin Nafir dia berkata, 'Adalah para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, apabila mereka bertemu pada hari Id, satu sama lain berkata, taqabbalallahu minna wa minka." Al-Hafiz menyatakan bahwa sanad riwayat ini hasan dalam kitab Fathul Bari, 2/517.
Imam Malik rahimahullah ditanya, 'Apakah dimakruhkan seseorang berkata kepada saudaranya jika selesai shalat Id, 'Taqabbalallahu minnaa wa minka, ghafarallahu lana wa lak, lalu saudaranya menjawab seperti itu pula?' Beliau menjawab, 'Tidak makruh.' (Al-Muntaqa Syarhul Muwaththa, 1/322)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, 'Mengucapkan selamat pada Hari Raya, yang satu sama lain  saling mengucapkan 'taqabbalallahu minka wa minkum' atau 'Ahaalahullahu alaika' dan semacamnya. Hal ini telah diriwayatkan dari sejumlah shahabat bahwa mereka telah melaksanakannya. Para imam pun telah memberikan keringanan dalam masalah ini, seperti Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi Imam Ahmad berkata, 'Saya tidak memulainya kepada seorang pun, tapi jika seseorang telah memulainya kepadaku, maka aku menjawabnya, karena menjawab ucapan selamat itu wajib.'
Adapun memulai mengucapkan selamat, hal itu bukan merupakan sunah yang diperintahkan, tapi juga bukan perkara yang dilarang. Yang melakukannya, ada teladan baginya, dan siapa yang meninggalkannya, juga ada teladan baginya. (Majmu Al-Fatawa, 24/253)
7- Melebihkan Makan dan Minum
Tidak mengapa berlebih dalam hal makan dan minum atau memakan makanan yang baik. Apakah hal itu dilakukan di dalam rumah atau di restoran di luar rumah. Hanya saja tidak dibolehkan dilakukan di restoran yang menyajikan khamar, atau restoran yang menyenandungkan musik di seluruh ruangan, atau restoran yang memungkinkan bagi laki-laki non mahram melihat wanita.
Boleh jadi, yang lebih utama dilakukan di sebagian daerah adalah melakukan perjalanan darat atau laut, agar menjauh dari tempat-tempat yang sudah terkenal sebagai tempat ikhtilat antara laki dan perempuan atau tempat yang terkenal dengan penyimpangan syari'inya.
Dari Nubaisyah Al-Huzali radhiallahu anhu, dia berkata, 'Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, 'Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari makan dan minum dan berzikir kepada Allah." (HR. Muslim, no. 1141)
8. Permainan Yang Dibolehkan.
Tidak mengapa membawa keluarga melakukan perjalanan darat mauupun laut, atau mengunjungi tempat-tempat yang indah, atau pergi ke tempat permainan yang dibolehkan, sebagaimana tidak dilarang mendengar nasyid yang tidak ada musiknya.
Dari Aisyah, dia berkata, 'Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendatangiku, sedangkan padaku ada dua orang budak anak perempuan yang sedang menyanyi dengan lagu-lagu bu'ats, maka beliau berbaring di atas tikar dan memalingkan wajahnya. Lalu Abu Bakar datang dan langsung menghardikku, 'Seruling setan ada di samping Nabi shallallahu alaihi wa sallam?' Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menghadapnya sambil berkata, 'Biarkan keduanya'. Maka ketika dia lengah, aku isyaratkan keduanya untuk keluar. Hari itu adalah Hari Raya, orang-orang hitam sedang bermain-main dengan alat perang, entah aku yang meminta Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau dia yang berkata, 'Engkau ingin melihat,' Aku berkata, 'Ya'. Lalu beliau menempatkan aku di belakangnya, pipiku menempel di pipinya, lalu dia berkata, 'Lanjutkan permainan kalian wahai Bani Arfadah,' dan ketika aku telah merasa bosan dia bertanya, 'Sudah cukup?' Aku berkata, 'Ya' Dia berkata, 'Pergilah.' (HR. Bukhari, no. 907 dan Muslim, no. 829)
Dalam sebuah riwayat, dari Aisyah dia berkata, 'Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam suatu hari berkata, 'Agar orang Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kami terdapat kelapangan, sesungguhnya aku diutus dengan ajaran yang penuh toleran." (Musnad Ahmad, 50/366, dinyatakan hasan oleh para ulama, dan Al-Albany menyatakan bahwa sanadnya bagus dalam silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 4/443)
Imam Nawawi mencantumkan hadits ini dengan judul 'Bab Keringanan Dalam Permainan Yang Tidak Mengandung Maksiat Pada Hari Id."
Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
'Dalam hadits ini terkandung berbagai pelajaran; 'Disyariatkannya memberi kelapangan rizki kepada keluarga pada hari-hari Id dengan berbagai macam bentuk yang dapat mendatangkan kesenangan jiwa dan ketenangan badan setelah lelah beribadah. Akan tetapi meninggalkan hal itu lebih utama.'
Dalam hadits ini juga terkandung ajaran bahwa menampakkan kegembiraan pada hari Id termasuk syiar agama. (Fathul Bari, 2/514)
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, 'Yang dilakukan di tengah masyarakat saat Id juga adalah memberikan hadiah dan menghidangkan makanan dan saling mengundang, berkumpul dan bergembira. Ini merupakan adat yang tidak bermasalah, karena dilakukan pada hari Id.  bahkan riwayat tentang masukan Abu Bakar radhiallahu anhu ke rumah Aisyah radhiallahu anha, dan seterusnya, padanya terdapat dalil bahwa syariat memberikan kemudahan dan keringan bagi hamba dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bergembira pada hari Id.
(Majmu Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, 16/276)
Disebutkan dalam Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah (14/166)
Sangat jelas petunjuk syariat yang memerintahkan untuk memberikan kelapangan bagi keluarga pada hari Id sehingga jiwa mereka tenang dan fisik mereka terhibur setelah letih beribadah. Sebagaimana menampakkan kegembiraan pada hari-hari Id merupakan syiar agama, begitu pula permainan dan ketangkasan pada hari Id, mubah hukumnya, baik di masjid atau lainnya, jika dilakukan sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah tentang permainan senjata di kalangan orang Habasyah."
Dalam jawab soal no. 36856 telah kami sebutkan sebagian kekeliruan yang terjadi pada hari Id. Hendaknya diperhatikan.
Kita mohon semoga Allah menerima semua amal ibadah kita dan selalu memberi kita petunjuk pada jalan kebaikan di dunia maupun akhirat.
Wallahu a'lam. 
Saya dan keluargaku tinggal di rumah dua tingkat. Tingkat pertama disewakan, terkadang yang menyewa orang hindu. Apakah merupakan suatu kesalahan kalau ada orang hindu yang tinggal bersama orang Islam di satu rumah?

Alhamdulillah Tidak mengapa menyewakan rumah kepada non muslim dengan tujuan untuk tempat tinggal. Dan diharamkan menyewakan untuk dibuat kemaksiatan seperti untuk ibadah atau dibuat tempat kefasikan dan semisalnya. Yang lebih utama disewakan untuk orang Islam.
As-Sarkhasy rahimahullah berkata, ‘Tidak mengapa seorang muslim menyewakan rumahnya untuk orang dzimmy (non Islam yang tinggal di Negara Islam) untuk tempat tinggal. Kalau di dalamnya dia minum khomr, menyembah salib atau memasukkan babi. Maka orang Islam tadi tidak terkena dosa apapun.  Karena dia menyewakan bukan untuk itu. Kemaksiatan tersebut merupakan prilaku orang yang menyewa. Maka pemilik rumah tidak berdosa akan hal itu.’ Selesai dari kitab ‘Al-Mabsut, 16/39.
Telah ada dalam kitab ‘Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 1/286: ‘Kalau orang dzimmi menyewa rumah dari orang Islam, dimana untuk dibuat gereja atau bar untuk menjual khomr. Maka mayoritas ulama’ (Malikiyah, Syafiiyyah, Hanabilah dan teman-teman Abu Hanifah) mengatakan bahwa persewaannya rusak. Karena untuk kemaksiatan. Kalau disewakan orang dzimmi contohnya untuk tempat tinggal, kemudian dibuat untuk geraja atau tempat ibadah secara umum. Maka persewaan terlaksana tanpa ada perbedaan. Sementara pemilik rumah dan orang Islam secara umum, ahli Hisbah (bagian yang menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran) melarangnya. Sebagaimana pelarangan tersebut ada pada rumah yang dimiliki orang dzimmi.’ Selesai.
Dinukilkan dari Imam Ahmad rahimahullah memakruhkan hal itu dan memperketat dalam masalah jual beli.
Al-Mardawi rahimahullah berkata, ‘Dinukilkan oleh Marwadzi (dari Imam Ahmad), Tidak dijual, (ditempat) yang diletakkan ukiran dan ditancapkan salib. (beliau) menganggap besar dan memperketat (masalah ini). Dinukilkan dari Abu Al-Harits, ‘Saya tidak melihat (tidak setuju) hal itu. Menjualnya kepada orang Islam lebih saya sukai. Al-Khollal mengatakan, ‘Masalah menurutku, tidak dijual dan tidak disewakan kepadanya. Karena maknanya satu. Abu Bakar Abdul Aziz mengatakan, ‘Tidak ada perbedaan antara penjualan dan penyewaan. Kalau dilarang dijual, maka dilarang juga disewakan. Syekh kami –yakni Syekh Taqiyudin- mengatakan (seperti itu) dan disetujui oleh AL-Qodi dan teman-temannya seperti itu. selesai dari kitab ‘Tashihul Furu’, 2/447. Sementara AL-Mardawi membenarkan pendapat yang memperbolehkan dengan memakruhkan.
Kesimpulannya, bahwa diperbolehkan menyewakan rumah kepada non muslim untuk tempat tinggal. Sementara disewakan kepada orang muslim itu yang lebih diutamakan.
Wallahu’alam . 
Alhamdulillah, Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Aali Syaikh rahimahullah secara khusus menjawab pertanyaan di atas sebagai berikut: Ada tiga perkara yang harus dibicarakan untuk menjawab pertanyaan di atas:
Pertama: Siapakah orang yang menerima darah yang didonorkan itu?
Kedua: Siapakah orang yang mendonorkan darahnya itu?
Ketiga: Instruksi siapakah yang dipegang dalam pendonoran darah itu?
Masalah pertama: Yang boleh menerima darah yang didonorkan adalah orang yang berada dalam keadaan kritis karena sakit ataupun terluka dan sangat memerlukan tambahan darah. Dasarnya adalah firman Allah Ta'ala:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (QS. 2:173)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 5:3)

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

"Dan sungguh telah dijelaskan kepadamu apa-apa yang diharamkan atasmu kecuali yang terpaksa kamu memakannya."

Bentuk pengambilan dalil dari ayat di atas bahwasanya jikalau keselamatan jiwa pasien karena sakit atau luka sangat tergantung kepada darah yang didonorkan oleh orang lain dan tidak ada zat makanan atau obat-obatan yang dapat menggantikannya untuk menyelamatkan jiwanya maka dibolehkan mendonorkan darah kepadanya. Dan hal itu dianggap sebagai pemberian zat makanan bagi si pasien bukan sebagai pemberian obat. Dan memakan makanan yang haram dalam kondisi darurat boleh hukumnya, seperti memakan bangkai bagi orang yang terpaksa memakannya.

Kedua: Boleh mendonorkan darah jika tidak menimbulkan bahaya dan akibat buruk terhadap si pendonor darah, berdasarkan hadits Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam :
"Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula membahayakan orang lain."

Ketiga: Instruksi yang dipegang dalam pendonoran darah itu adalah instruksi seorang dokter muslim. Jika tidak ada, maka kelihatannya tidak ada larangan mengikuti instruksi dokter non muslim, baik dokter itu Yahudi, Nasrani ataupun selainnya. Dengan catatan ia adalah seorang yang ahli dalam bidang kedokteran dan dipercaya banyak orang. Dasarnya adalah sebuah riwayat dalam kitab Ash-Shahih bahwasanya Rasulullah menyewa seorang lelaki dari Bani Ad-Diel sebagai khirrit sementara ia masih memeluk agama kaum kafir Quraisy. Khirrit adalah penunjuk jalan (guide) yang mahir dan mengenal medan. (H.R Al-Bukhari No:2104)

Silakan lihat fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.
Lembaga tertinggi Majelis Ulama juga mengeluarkan fatwa berkenaan dengan masalah ini sebagai berikut:

Pertama: Boleh hukumnya mendonorkan darah selama tidak membahayakan jiwanya dalam kondisi yang memang dibutuhkan untuk menolong kaum muslimin yang benar-benar membutuhkannya.

Kedua: Boleh hukumnya mendirikan Bank donor darah Islami untuk menerima orang-orang yang bersedia mendonorkan darahnya guna menolong kaum muslimin yang membutuhkannya. Dan hendaknya bank tersebut tidak menerima imbalan harta dari si sakit ataupun ahli waris dan walinya sebagai ganti darah yang di donorkan. Dan tidak dibolehkan menjadikan hal itu sebagai lahan bisnis untuk mencari keuntungan, karena hal itu berkaitan dengan kemaslahatan umum kaum muslimin.
  1. Pengampunan Dosa
    Allah dan Rasul-Nya memberikan targhib (spirit) untuk melakukan puasa Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa, dan kalau seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi ini.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, (bahwasanya) beliau bersabda (yang artinya) : ' Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab (mengharap wajah ALLAH) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" [Hadits Riwayat Bukhari 4/99, Muslim 759, makna "Penuh iman dan Ihtisab' yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya]
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu juga, -Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda (yang artinya) : ' Shalat yang lima waktu, Jum'at ke Jum'at. Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara senggang waktu tersebut jika menjauhi dosa besar" [Hadits Riwayat Muslim 233].
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin" Ditanyakan kepadanya : "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin'" Beliau bersabda (yang artinya) : ' Sesungguhnya Jibril 'Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan "Amin", maka akupun mengucapkan Amin...." [Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin].
  1. Dikabulkannya Do'a dan Pembebasan Api Neraka
    Rasullullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : ' Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam dalam bulan Ramadhan, dan semua orang muslim yang berdo'a akan dikabulkan do'anya" [Hadits Riwayat Bazzar 3142, Ahmad 2/254 dari jalan A'mas, dari Abu Shalih dari Jabir, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 1643 darinya secara ringkas dari jalan yang lain, haditsnya shahih. Do'a yang dikabulkan itu ketika berbuka, sebagaimana akan datang penjelasannya, lihat Misbahuh Azzujajah no. 60 karya Al-Bushri]
  2. Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada
    Dari 'Amr bin Murrah Al-Juhani[1] Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Datang seorang pria kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata : "Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, engkau adalah Rasulullah, aku shalat lima waktu, aku tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam harinya, termasuk orang yang manakah aku '" Beliau menjawab (yang artinya) : ' Termasuk dari shidiqin dan syuhada" [Hadits Riwayat Ibnu Hibban (no.11 zawaidnya) sanadnya Shahih]
Footnote :
[1]. Lihat Al-Ansab 3/394 karya As-Sam'ani, Al-Lubab 1/317 karya Ibnul Atsir

Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.
Makna Sahur
Dalam bahasa Arab, as-sahur **السَّحُورُ **dengan mem-fathah huruf sin adalah benda makanan dan minuman untuk sahur. Adapun as-suhur السُّحُورُ dengan men-dhammah huruf sin adalah mashdar yakni perbuatan makan sahur itu sendiri. (an-Nihayah, 2/347)

Hukum Sahur
Hukum makan sahur adalah sunnah, berdasarkan hadits dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat berkah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Al-Imam an-Nawawi berkata, “Para ulama telah bersepakat tentang sunnahnya makan sahur dan bukan suatu kewajiban.” (Syarh Shahih Muslim, 7/207)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam mendorong kita untuk tidak meninggalkan makan sahur meskipun hanya dengan seteguk air. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id al-Khudri ra, ia berkata bahwa Rasulullah Shalallaahu 'alaihi bersabda:
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ

“Makan sahur adalah berkah maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah seorang di antara kalian hanya minum seteguk air.” (HR. Ahmad, hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 1/686 no. 3683)
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sahur dapat diperoleh seseorang yang makan dan minum meskipun hanya sedikit.” (Fathul Bari, 4/166)
Keutamaan Sahur
Adapun mengenai keutamaan sahur, Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam telah menjelaskannya dalam beberapa hadits di bawah ini:

  1. Dalam sahur terdapat berkah
    Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
    تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
    “Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat berkah.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata (dalam kitabnya Fathul Bari, 4/166): “Dan yang utama (dari tafsiran berkah yang terdapat dalam hadits) sesungguhnya berkah dalam sahur dapat diperoleh dari beberapa segi, yaitu:
a. Mengikuti Sunnah Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam.
b. Menyelisihi ahli kitab.
c. Menambah kemampuan/kekuatan untuk beribadah.
d. Menambah semangat.
e. Mencegah akhlak buruk yang timbul karena pengaruh lapar.
f. Mendorong bersedekah terhadap orang yang meminta pada waktu sahur atau berkumpul bersamanya untuk makan sahur.
g. Merupakan sebab untuk berzikir dan berdoa pada waktu mustajab.
h. Menjumpai niat puasa bagi orang yang lupa niat puasa sebelum tidur.

  1. Pujian Allah Subhanahu Wata'ala dan doa para malaikat terhadap orang-orang yang sahur
    Dari Abu Sa’id al-Khudri beliau berkata bahwa Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
    السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
    “Makan sahur adalah berkah. Maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah satu di antara kalian hanya minum seteguk air. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang sahur.” (HR. Ahmad, hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 1/686 no. 3683)
  2. Menyelisihi puasa ahli kitab
    Dari ‘Amr bin al-‘Ash, sesungguhnya Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
    فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
    “Yang membedakan antara puasa kami (orang-orang muslim) dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. al-Imam Muslim dan lainnya)
Al-Imam Sarafuddin ath-Thibi berkata, “Sahur adalah pembeda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab, karena Allah Subhanahu Wata'ala telah membolehkan kita sesuatu yang Allah Subhanahu Wata'ala haramkan atas mereka. Penyelisihan kita terhadap ahli kitab dalam masalah ini merupakan nikmat (dari Allah Subhanahu Wata'ala) yang harus disyukuri.” (Syarhuth-Thibi, 5/1584)
Waktu Sahur
Waktu yang utama untuk makan sahur adalah dengan mengakhirkan waktunya hingga mendekati terbit fajar. Mengakhirkan waktu sahur ini merupakan sunnah Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam sebagaimana hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit, beliau bekata:
تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ n ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: خَمْسِينَ آيَةً
“Kami makan sahur bersama Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam kemudian (setelah makan sahur) kami berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku (Anas bin Malik) berkata, ‘Berapa perkiraan waktu antara keduanya (antara makan sahur dengan shalat fajar)?’ Zaid bin Tsabit z berkata, ‘50 ayat’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Al-Imam al-Bukhari mengatakan dalam Shahih al-Bukhari:
بَابُ قَدْرِ كَمْ بَيْنَ السَّحُورِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ
“Bab perkiraan berapa lama waktu antara sahur dengan shalat fajar.” Maksudnya (jarak waktu) antara selesainya sahur dengan permulaan shalat fajar. (Fathul Bari, 4/164)
Hal ini sebagaimana telah diterangkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari pada “Kitab at-Tahajjud”, dari Anas bin Malik, beliau ditanya:

كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ؟ قَالَ: قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً
“Berapakah jarak waktu antara selesainya Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam dan Zaid bin Tsabit makan sahur dengan permulaan mengerjakan shalat (subuh)? Beliau menjawab, ‘Seperti waktu yang dibutuhkan seseorang membaca 50 ayat (dari Al-Qur’an)’.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/164) menyebutkan, “(Bacaan tersebut) adalah bacaan yang sedang-sedang saja (ayat-ayat yang dibaca), tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek, (membacanya) tidak cepat dan tidak pula lambat.”
Bila kita sebutkan dengan catatan waktu maka kira-kira jarak antara keduanya 10—15 menit. Wallahu a’lam.

Tamr (Kurma), Sebaik-baik Makanan untuk Sahur
Terkadang di antara hidangan makan sahur kita terdapat beberapa jenis makanan dengan beragam rasanya, sehingga kita dapat memilih makanan yang baik dan disukai. Akan tetapi tahukah Anda jenis makanan apa yang paling baik untuk sahur? Ketahuilah! Sebaik-baik makanan untuk sahur adalah tamr (kurma). Sahur dengan tamr merupakan Sunnah Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ
“Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah tamr (kurma).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi, serta disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 562 dan Shahihul Jami’ish Shaghir, 2/1146 no. 6772)

Ketika kita telah mengetahui hal ini maka selayaknyalah bagi kita untuk mengamalkan Sunnah Nabi kita Muhammad Shalallaahu 'alaihi wasallam.
Bulan Ramadhan bukan bulan suci, karena bulan-bulan suci menurut Al-Qur'an atau Al-Asyhurul Hurum cuma ada 4 (empat), yaitu bulan Dzul Qaidah, Dzul Hijjah, Muharram  dan Rajab.
Ternyata bulan Ramadhan tidak termasuk yang 4 tersebut, jadi bulan Ramadhan bukan bulan suci. Jadi Ramadhan bulan apa namanya ? Jawabannya ... Bulan Ramadhan adalah Syahrul Ibadah atau Bulan Ibadah. Tidak ada Ramadhan, tidak ada ibadah puasa.
Tanggal 30 Sya'ban dimakruhkan puasa, bahkan 1 Syawwal diharamkan puasa, agar mutlak yang wajib puasa itu adalah hanya di bulan Ramadhan. Jadi hilangkanlah istilah bulan suci, yang betul adalah bulan Ibadah. Kedepan hendaknya semua pihak mengunakan istilah bulan Ibadah dan berhenti menggunakan bulan suci Ramadhan.
Ibadah Ramadhan ibadah 24 jam. Jika kita sholat yang paling lama 10 menit, jadi dalam sehari kita sholat cuma 50 menit. Tidak sampai satu jam.
Resminya sholat kita sedari takbirotul ihrom sampai mengucap salam, sekali lagi paling lama juga sepuluh menit. Akan tetapi yang namanya ibadah puasa kita beribadah dalam sebulanan penuh. Coba lihat ! jam 3 pagi kita sudah bangun untuk menyiapkan makan sahur.
Makan sahur itu ibadah yang hukumnya sunnah muakkadah. Makruh hukumnya puasa wajib/Ramadhan tanpa makan sahur. Semenjak Imsak (terbit fajar) kita sudah puasa.
Menahan diri dari makan,minum dan hubungan suami isteri serta embel-embelnya. Dari terbit fajar sampai terbit fajar kembali. Siangnya kita melakukan shiyam Ramadhan dan malam harinya kita melakuka ibadah Qiyam Ramadhan, dari ta,jilan sampai sholat tarawih dan witir dan tadarrusan membaca Al-Qur’an. Kedekatan seorang hamba kepada Allah pada saat dia melakukan ibadah.
Dalam sholat kita dekat sekali dengan Allah. Tapi kan cuma 10 menit sedangkan dalam ibadah Ramadhan sebulan penuh dari Maghrib 1 Ramadhan sampai dengan Maghrib 1 Syawwal kita berada pada kondisi resmi beribadah, berarti kedekatan kita kepada Allah SWT selama 1 bulan penuh atau selama kita melakukan ibadah Ramadhan.
INILAH SALAH SATU KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN
Allah menggandakan pahala dari ibadah apapun selain ibadah puasa yang dilakukan selama bulan Ramadhan, suatu ibadah yang dilakukan diluar bulan Ramadhan apabila dilakukan di dalam bulan Ramadhan Allah akan menggandakan pahalanya menjadi 10 kali lipat.
Dan ibadah sunnah yang dilakukan didalam bulan Ramadhan mendapat balasan seperti ibadah Fardhu. Ibadah Umrah yang dilakukan di bulan Ramadhan mendapat pahala seperti ibadah Haji.
Inilah keutamaan Ramadhan yang ketiga yaitu pelipat gandaan pahala dari ibadah yang sama yang dilakukan di bulan lain. Sehingga kita wajib menyadarkan diri kita dan keluarga kita agar bulan Ramadhan dijadikan bulan momentum untuk mengumpulkan bekal berupa pahala yang akan dibawa ke akherat.
Didalam bulan Ramadhan kasih sayang Allah SWT sangat penuh diberikan kepada hambaNya yang shaleh begitu juga Maghfirah atau ampunan yang berujung kepada pembebasan seorang hamba dari api neraka, hal ini menjadi keutamaan Ramadhan yang ke-4 untuk memberikan kesempatan kepada manusia yang tempatnya salah dan dosa untuk memohon grasi kepada Allah SWT dan apabila dilakukan dengan penuh keikhlasan pertobatan dari dosa yang memenuhi langit dan bumi pun pasti akan diampuni oleh Allah SWT.
Keutamaan yang ke-5 adalah bahwa syurga Allah SWT di akherat nanti akan mempunyai pintu masuk istimewa salah satuya bernama “Ar-Royan” pintu masuk syurga yang satu ini dikhususkan untuk para shoimin dan shoimat Ramadhan.
Hari ini baru hari yang ke-5 dari bulan Ramadhan, masih banyak waktu untuk memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk mengumpulkan bekal hidup di akherat sebesar-besarnya.
Siapa tahu umur kita tidak lagi mencapai bulan Ramadhan 1436 H karena ajal semata-mata ditangan Allah SWT.
WaAllahu A’lam Bishowab.  
Setiap ramadhan, umat Islam selalu memenuhi masjid, musollah, langgar, untuk melaksanakan shalat taraweh. Shalat taraweh adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat banyak keutamaanya. Keutamaan shalat taraweh tergambang sebagaimana hadis dibawah ini:
Dari Ali bin Thalib, Radhiallohu Anhu, bahwa, “Nabi Muhammad SAW, ditanya tentang keutamaan taraweh di bulan Ramadhan . Maka beliau bersabda : Siapa yang melaksanakan shalat taraweh pada malam pertama dihapuskan dosanya sama seperti saat ia dilahirkan ibunya.
Pada malam kedua, diampuni dosanya dan kedua orang tuanya jika kedua orang tuanya mukmin.
Pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dari bawah asrsy “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat”
Malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al Furqan.
Pada malam kelima, Allah Ta’ala memberinya seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Al Aqsha.
Pada malam keenam, Allah Ta’ala memberinya pahala orang yang bertawaf di Baitul Makmur dan dimohon ampunan oleh setiap batu cadas.
Pada Malam ketujuh, seolah olah ia mencapai derajat Nabi Musa AS, dan kemenangannya atas Fir’aun dan Hamman.
Pada Malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah dia berikan kepada Nabi Ibrahim AS.
Malam kesembilan seolah olah ia menyembah Allah Ta’ala, sebagaimana ibadah Nabi SAW.
Malam ke sepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia akhirat.
Malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
Malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.
Malam ke tigabelas, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap keburukan.
Pada malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberikan kesaksian untuknya, bahwa dia telah melakukan shalat taraweh, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
Malam kelimabelas, ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggungjawab ‘Arsy’ dan Kursi.
Pada malam keenambelas, Allah menetapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
Malam ketujuhbelas, ia diberi seperti pahala para nabi.
Malam kedelapanbelas, seorang malaikat menyeru: “Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha padamu, dan kepada ibu bapakmu.”
Malam kesembilanbelas, Allah mengangkat derajat derajatnya dalam surga Firdaus.
Pada malam keduapuluh, Allah memberi pahala para syuhada dan shalihin.
Malam keduapuluh satu, Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.
Malam keduapuluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
Malam keduapuluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota dalam surga.
Malam keduapuluh empat, ia memperoleh dua puluh empat do’a yang dikabulkan.
Pada malam keduapuluh lima, Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
Pada malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
Pada malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
Malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
Malam keduapuluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
Pada malam ketigapuluh, Allah berfirman: “Hai hamba KU, makanlah buah buahan surga, mandilah dari air salsabil dan minumlah dari kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba KU”
Redaktur : Imran Nasution
Dikutib dari Kitab Durotunnashihin
“Bicara masalah musik, apa tidak termasuk berlebih-lebihan, orang yang mengharamkan musik? Kok bisa sesuatu yang nyaman, yang menghantarkan tidur kita, membuat hati ini mengkhayal, kok bisa haram, Ustadz? Kita saja mendengar suara-suara burung itu halal. Kok ada orang yang ngomong musik itu haram, dari mana? Kemudian apakah masalah ini bukan masalah khilafiyah, Ustadz? Kalau pun ada ulama yang mengatakan haram, mungkin ada yang mengatakan halal juga?”
Seorang Muslim dituntut untuk belajar, untuk mengkaji, apa benar seremeh itu kita bisa memilih? “Setiap ada perselisihan, kita boleh memilih. Ada khilaf nih, di antara para ulama, ente milih yang mana?” “Ya, ana milih yang enak lah…”
Apa boleh seperti itu?
Ternyata tidak…
ليس كل خلاف جاء معتبراً إلا خلاف له حظ من النظر
“Tidak semua perselisihan itu bisa diterima, kecuali khilaf yang memang ada ruang untuk beda pendapat.”
Apakah musik ini termasuk yang ada ruang untuk khilaf pendapat?
Mari simak jawaban dan paparan sangat menarik dari pengajian oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. ini, dengan mendownload rekaman pengajiannya melalui tombol yang telah disediakan di bawah ini. Ayo kita ketahui bagaimana hukum mendengarkan musik itu…


Diantara sunnah-sunnah yang dituntunkan oleh syariat kita pada bulan Ramadhan adalah shalat Tarawih. Hadits-hadits Nabi yang mulia telah banyak yang menerangkan tentang keutamaan shalat tesebut.
Berkaitan dengan hal itu, terdapat sebuah hadits yang masyhur, khususnya di Indonesia, yaitu “30 keutamaan shalat tarawih” atau “keutamaan shalat tarawih per malam”. Apakah hadits itu shahih ? Bolehkah kita menyampaikannya di tengah-tengah kaum muslimin? Berikut ini sedikit bahasan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Teks hadits

عن علي بن ابي طالب رضي الله تعالى عنه أنه قال : ” سئل النبي عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان فقال
يخرج المؤمن ذنبه فى اول ليلة كيوم ولدته أمه
وفى الليلة الثانية يغفر له وللأبوية ان كانا مؤمنين
وفى الليلة الثالثة ينادى ملك من تحت العرش؛ استأنف العمل غفر الله ماتقدم من ذنبك
وفى الليلة الرابعة له من الاجر مثل قراءة التوراه والانجيل والزابور والفرقان
وفى الليلة الخامسة أعطاه الله تعالى مثل من صلى في المسجد الحرام ومسجد المدينة والمسجد الاقصى
وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر
وفى الليلة السابعة فكأنما أدرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان
وفى الليلة الثامنة أعطاه الله تعالى ما أعطى ابراهيم عليه السلام
وفى الليلة التاسعة فكأنما عبد الله تعالى عبادة النبى عليه الصلاة والسلام
وفى الليلة العاشرة يرزقة الله تعالى خير الدنيا والآخرة
وفى الليلة الحادية عشر يخرج من الدنيا كيوم ولد من بطن أمه
وفى الليلة الثانية عشر جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر
وفى الليلة الثالثة عشر جاء يوم القيامة آمنا من كل سوء
وفى الليلة الرابعة عشر جاءت الملائكة يشهدون له أنه قد صلى التراويح فلا يحاسبه الله يوم القيامة
وفى الليلة الخامسة عشر تصلى عليه الملائكة وحملة العرش والكرسى
وفى الليلة السادسة عشر كتب الله له براءة النجاة من النار وبراءة الدخول فى الجنة
وفى الليلة السابعة عشر يعطى مثل ثواب الأنبياء
وفى الليلة الثامنة عشر نادى الملك ياعبدالله أن رضى عنك وعن والديك
وفى الليلة التاسعة عشر يرفع الله درجاته فى الفردوس
وفى الليلة العشرين يعطى ثواب الشهداء والصالحين
وفى الليلة الحادية والعشرين بنى الله له بيتا فى الجنة من النور
وفى الليلة الثانية والعشرين جاء يوم القيامة آمنا من كل غم وهم
وفى الليلة الثالثة والعشرين بنى الله له مدينة فى الجنة
وفى الليلة الرابعة والعشرين كان له اربعه وعشرون دعوة مستجابة
وفى الليلة الخامسة والعشرين يرفع الله تعالى عنه عذاب القبر
وفى الليلة السادسة والعشرين يرفع الله له ثوابه أربعين عاما
وفى الليلة السابعة والعشرين جاز يوم القيامة على السراط كالبرق الخاطف
وفى الليلة الثامنة والعشرين يرفع الله له ألف درجة فى الجنة
وفى الليلة التاسعة والعشرين اعطاه الله ثواب الف حجة مقبولة
وفى الليلة الثلاثين يقول الله : ياعبدى كل من ثمار الجنة واغتسل من مياه السلسبيل واشرب من الكوثرأنا ربك وأنت عبدى”

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang keutamaan Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
  • Di malam pertama, Orang mukmin keluar dari dosanya , seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
  • Di malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
  • Di malam ketiga, seorang malaikat berseru di bawah Arsy: ‘Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.’
  • Di malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan.
  • Di malam kelima, Allah Ta’ala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjid al-Haram, masjid Madinah, dan Masjid al-Aqsha.
  • Di malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang ber-thawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
  • Di malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa ‘alaihissalam dan kemenangannya atas Firaun dan Haman.
  • Di malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
  • Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Di malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
  • Di malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
  • Di malam kedua belas, ia datang pada hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama.
  • Di malam ketigabelas, ia datang di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
  • Di malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
  • Di malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para pemikul Arsy dan Kursi.
  • Di malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
  • Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
  • Di malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, ‘Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.’
  • Di malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajatnya dalam surga Firdaus.
  • Di malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
  • Di malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya gedung dari cahaya.
  • Di malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
  • Di malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
  • Di malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
  • Di malam kedua puluh lima, Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
  • Di malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
  • Di malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
  • Di malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
  • Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
  • Di malam ketiga puluh, Allah ber firman : ‘Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.’
Hadits ini disebutkan oleh Syaikh al-Khubawi dalam kitab Durrotun Nashihiin, hal. 16 – 17.
Indikasi-indikasi kepalsuan hadits
Perlu diketahui bahwasanya hadits yang munkar dan palsu membuat hati penuntut ilmu menjadi geli dan mengingkarinya. Rabi’ bin Hutsaim rahimahullahmengatakan, “Sesungguhnya hadits itu memiliki cahaya seperti cayaha di siang hari, sehingga engkau dapat melihatnya. Dan memiliki kegelapan seperti gelapnya malam, sehingga engkau mengingkarinya.”1
Berikut ini beberapa indikasi atas palsunya hadits tersebut:
  • Pahala yang terlalu besar untuk amalan yang sederhana. Banyak keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam hadits di atas termasuk dalam kejanggalan jenis ini, misalkan pada lafadz “Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
  • Bahkan, yang lebih parah adalah seseorang bisa mendapatkan pahala sebanding dengan pahala para Nabi (keutamaan shalat tarawih malam ke-17). Hal tersebut mustahil terjadi, karena sebanyak apapun amalan ibadah manusia biasa, tentu dia tidak akan mampu menyamai pahala Nabi. Nubuwah merupakan pilihan dari Allah semata. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Hajj [22] : 75)2
  • Tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad. Hadits tentang 30 keutamaan shalat tarawih di atas, tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yangmu’tamad. DR. Lutfi Fathullah mengatakan, “Jika seseorang mencari hadits tersebut di kitab-kitab referensi hadits, niscaya tidak akan menemukannya.” Hal tersebut mengindikasikan bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu.3
Pendapat para ulama dan penuntut ilmu
Lebih jauh lagi, apabila kita memperhatikan perkataan para ulama tentang hadits itu, tentu akan kita dapati mereka menganggapnya hadits palsu.
Al-Lajnah ad-Da’imah pernah ditanya tentang hadits tersebut, kemudian mereka menjawab,
كلا الحديثين لا أصل له، بل هما من الأحاديث المكذوبة على رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada sumbernya (laa ashla lahu). Bahkan, hadits tersebut merupakan kebohongan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”4
Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan DR. Lutfi Fathullah, dimana disertasi beliau meneliti kitab Durratun Nashihin. Beliau mengatakan:
Ada sekitar 30 persen hadits palsu dalam kitab Durratun Nashihin. Diantaranya adalah hadits tentang fadhilah atau keutaman shalat tarawih, (yaitu) dari Aliradhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallaam ditanya tentang keutamaan shalat tarawih, (lalu beliau bersabda) malam pertama pahalanya sekian, malam kedua sekian, dan sampai malam ketiga puluh.
Hadits tersebut tidak masuk akal. Selain itu, jika seseorang mencari hadits tersebut di kitab-kitab referensi hadits, niscaya tidak akan menemukannya.5
Sibukkan diri dengan yang Shahih
Setelah mengetahui lemahnya hadits tersebut, maka hendaklah para penulis dan penceramah meninggalkannya, karena dikhawatirkan akan masuk dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits mutawatir :
من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
Barangsiapa yang berdusta atas nama saya dengan sengaja, maka hendaknya dia bersiap-siap mengambil tempat di Neraka
Hendaklah mereka mencukupkan diri dengan hadits-hadits yang tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama kita mengatakan:
في صحيح الحديث شغل عن سقيمه
“Dalam hadits yang shahih terdapat kesibukan dari hadits yang lemah”6
Diantara Keutamaan Shalat Tarawih dari Hadits yang Shahih7
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).
Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39)
Selain itu, beliau beliau juga pernah mengumpulkan keluarga dan para shahabatnya. Lalu beliau bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh” (HR. An-Nasai dan selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 447)
Semoga Allah selalu melimpahkan karunai-Nya kepada kita semua, dan menjaga lisan-lisan kita dari perkataan dusta, apalagi berdusta atas nama Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu a’lam.
Catatan Kaki
1al-Maudhuu’aat 605, Ibnul Jauzi rahimahullah
2Lihat al-Manaarul Muniif hal. 55 – 105, karya Ibnul Qoyyim rahimahullah.
3Lihat Hadits-hadits Lemah dan Palsu dalam Kitab Durrotun Nashihiin, karya DR. Ahmad Luthfi Fathullah; dan http:/majalah.hidayatullah.com/?p=1490
4Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta no. 8050, juz 4, hal 476-480. Ditanda tangani oleh Syaikh Abdul Azin bin Baaz sebagai ketua, Syaikh Abdurrazaq Afifi sebagai wakil, Syaikh Abdullah Ghuddayan sebagai anggota dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud sebagai anggota.
5Lihat http:/majalah.hidayatullah.com/?p=1490
6al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi wa Adaabis Saami’ 1524, al-Khatiib al-Baghdaadi rahimahullah